Kisah Hikmah Seorang Pencuri Kain Kafan dan Seorang Hakim yang Sholeh

Syaikh Nawawi al-Bantani, mengungkapkan kisah yang diambil dari Kitab Nashâihul ‘Ibâd, tentang seorang pencuri kain kafan dan seorang hakim dalam sebuah negara.

1001KisahTeladan.com – Kisah hikmah ini dimulai ketika hakim yang terkenal karena kesholehannya merasakan ajalnya sudah mendekat. Ia tidak memikirkan hal lain dalam kematiannya selain akankah kain kafan yang kelak menutupi jasadnya selamat dari tindakan pencurian?

Kisah Pencuri Kain Kafan dan Hakim yang Sholeh

Di kampung tempatnya tinggal sudah sering terjadi pencurian kain kafan jenazah yang telah di makamkan. Tetangganya yang belum lama di makamkan juga mengalami hal serupa. Sang hakim sebenarnya tahu siapa pencuri kain kafan tersebut. Maka sang hakim berinisiatif untuk memanggil pencuri kain kafan tersebut.

Di depan si pencuri kain kafan, sang hakim meminta untuk tidak mengambil kain kafan yang menutupi jenazahnya jika kelak Ia telah di makamkan. Sang hakim memberi sejumlah uang kepada si pencuri kain kafan tersebut, agar tidak mengoyak-oyak kuburannya nanti.

“Aku telah menyiapkan sejumlah uang seharga kain kafanku. Ambilah, tapi tolong jangan koyak kuburanku.” Si pencuri kain kafan mendengarkan dengan baik pesan sang hakim. Ia menyanggupi permintaannya.

Selang beberapa hari kemudian, sang hakim yang terkenal sholeh tersebut meninggal dunia. Ia pun telah dimakamkan. Namun si pencuri kain kafan tak benar-benar memegang janjinya kepada sang hakim. Ia ingin mengambil kain kafan sang hakim, meski istrinya sudah memperingatkannya.

Saat proses penggalian kubur berlangsung, si pencuri kain kafan seperti mendengar suara tak lazim yang dapat ditangkap oleh indra pendengaran. Suara tersebut meminta si pencuri untuk melakukan sesuatu. Belakangan diketahui, suara itu adalah suara malaikat di alam kubur.

“Ciumlah bau kakinya (hakim),” ujar malaikat satu kepada yang lain.

“Tidak ada yang aneh. Dia tidak menggunakan kedua kakinya untuk maksiat.”

Si pencuri kain kafan juga diminta untuk menciumi anggota badan yang lain, mulai tangan, mulut hingga matanya. Tak ada yang aneh atau janggal dari  mayat sang hakim. Diyakini sang hakim mampu menjaga tangan, mulut serta penglihatannya dari perbuatan haram.

Kemudian malaikat meminta si pencuri untuk memeriksa kedua telinga sang hakim. Satu sisi telinga sang hakim tidak juga ada yang aneh dan janggal, namun satu sisi telinga lainnya menebarkan aroma bau busuk yang tak terkira.

Malaikat bertanya kepada si pencuri kain kafan, “Apa yang kau temukan?”

“Sebuah bau busuk, ” jawab si pencuri.

“Tahukah kau bau apakah ini? Inilah bau perbuatan sang hakim yang hanya mau mendengar satu pihak daripada pihak yang lainnya dalam persidangan kasus sengketa antara dua pihak, ” malaikat menjelaskan kepada si pencuri.

“Nah, tiuplah telinga yang bau busuk itu!” perintah malaikat kepada si pencuri kain kafan.

Begitu tiupan diembuskan, tiba-tiba saja api berkobar dan memenuhi kuburan sang hakim. Setelah peristiwa tersebut, si pencuri kain kafan mengalami kebutaan total.

Syaikh Nawawi tidak merinci lebih jelas lagi tentang kisah pencuri kain kafan dan hakim tersebut. Beliau hanya menyebut, ini adalah kisah dari sebagian ulama terdahulu. Syaikh Nawawi menceritakan kisah ini sebagai hikmah balasan kehidupan setelah kematian.

Hikmah dari kisah seorang pencuri kain kafan dan seorang hakim yang terkenal sholeh  ini adalah, ketidak-adilan dalam penegakan hukum tidak hanya berakibat pada kerugian pada salah satu pihak yang bersengketa, tetapi juga bisa menimpa sang hakim itu sendiri. Citra positif sang hakim dimata masyarakat tidak akan dapat menutupi kebusukan perilakunya. Pengadilan yang benar-benar adil sesungguhnya justru terdapat di kehidupan setelah kematian. [via Kisah Hikmah nu.or.id]

Kisah Inspiratif | Kisah Hikmah