Kisah Abu Bakar dalam Membelanjakan Hartanya

Kisah Abu Bakar dalam Membelanjakan Hartanya – Seperti yang sudah saya muat dalam artikel sebelumnya tentang Rasa Takut Abu Bakar kepada Allah SWT, lalu bagaimana pula dia dalam memperlakukan harta yang dimilikinya di dunia ??

Kisah Abu Bakar dalam Membelanjakan Hartanya

Kisah Abu Bakar dalam Membelanjakan Hartanya
Mencontoh Sang Khalifah Abu Bakar dalam Memperlakukan Harta

Di Kisah sebelumnya sudah saya muat mengenai Janji Rasulullah tentang surga untuknya, serta dijadikan pemimpin salah satu jamaah di akhirat kelak. Ternyata, diantara rahasianya adalah kehati-hatian beliau dalam mengelola harta dan tunjangan.

Ketika Rasulullah SAW wafat pada 2 Rabiul Awal tahun 11 H, Abu Bakar Ash-Shiddiq diangkat menjadi pemimpin (khalifah) umat pertama dalam mengomandoi Islam sesudah Nabi. Setelah dipastikan, diapun dilantik.

Abu Bakar adalah Pedagang Kain

Abu Bakar adalah seorang pedagang kain. Sehari setelah ia dilantik, dia masih melakukan rutinitas seperti biasanya, yakni berdagang ke pasar dengan membawa beberapa helai kain ditangannya.

Di tengah berjalan, dia bertemu dengan Umar bin Khattab, kemudian Umar bertanya :

“Mau kemanakah engkau..?”

“Mau ke pasar untuk berdagang..” jawab Abu Bakar.

“Jika engkau masih sibuk berdagang, lalu siapakah gerangan yang akan menjalankan tugas kekhalifahan..?” Tanya Umar.

Kemudian Abu Bakar menjawab :

“Jika aku tidak berdagang, bagaimanakah aku membiayai kehidupan keluargaku..?”

“Baiklah, kalau begitu, mari kita menjumpai Abu Ubaidah (yang dijuluki sebagai ‘penjaga amanah’ oleh Rasulullah), agar ia menentukan gajimu..” jawab Umar.

Setelah menjumpai Abu Ubaidah dan berbincang sesaat, kemudian ditetapkanlah uang tunjangan Khalifatullah yang besarnya sama dengan tunjangan kaum Muhajirin lainnya, tidak kurang dan tidak pula lebih.

Ketika Istri Abu Bakar meminta Manisan

Suatu hari, istri Abu Bakar berkata “Aku ingin memakain sedikit manisan..”, kemudian Abu Bakar menjawab “Aku tidak punya uang untuk membelinya..”.

Lalu istrinya menawarkan, “jika engkau izinkan, aku akan menyisihkan sedikit uang dari belanja sehari-hari untuk membeli manisan tersebut..”, Abu Bakar pun menyetujui usulan istrinya.

Setelah beberapa hari berhemat, uang tersebut akhirnya terkumpul, lalu istrinya menyerahkan uang itu kepada Abu Bakar. Namun, Abu Bakar berkata :

“Sepertinya, menyisihkan uang belanja sehari-hari tidak mengganggu kebutuhan. Itu artinya, tunjangan dari Baitul-Mal telah melebihi keperluan kita..”.

Setelah itu, sejumlah uang yang sudah berhasil dikumpulkan oleh istrinya dikembaliken ke Baitul-Mal. Semenjak saat itu, jumlah uang tunjangan Abu Bakar dikurangi sejumlah uang yang berhasil ditabung istrinya.

Hikmah Dari Kisah Abu Bakar dalam Membelanjakan Hartanya

Begitulah Para Khalifah di masa keemasan Islam dahulu, padahal jika dijumlahkan, uang tunjangan yang diperoleh dari Baitul-Mal tidaklah banyak, hanya sebatas mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun ketika dirasa berlebih sedikit, maka akan dikembalikan untuk keperluan umat.

Lalu, bagaimana dengan keadaan pemimpin kita hari ini? Memang jika dibandingkan tidak akan sama, hanya saja, perbedaannya begitu mencolok.

Jika dahulu mereka sangat berhati-hati dalam membelanjakan harta, namun kini malah sebaliknya, seakan-akan dijadikan perlombaan mana yang paling kaya dan mewah antar pemimpin.

Belum lagi korupsi yang benar-benar telah mengotori hati nurani beberapa pemimpin kita, sehingga merugikan rakyat, negara dan diri mereka sendiri secara bersamaan.

Untuk itu, jika kamu adalah pemimpin, semoga kisah di atas bisa memotivasi dan menjadikannya kisah inspiratif serta bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari semasa memimpin.

Baca juga : Kisah Abu Bakar Memuntahkan Makanan Haram

Demikianlah, sepotong Kisah Abu Bakar dalam membelanjakan hartanya. Semoga Kisah Sahabat di atas bisa memberi manfaat bagi kita semua.

Tinggalkan komentar