Kisah Rasa Takut Abu Bakar kepada Allah SWT

Kisah Rasa Takut Abu Bakar Kepada Allah SWT – Bernama lengkap Abdullah bin Abu Quhafah atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq, merupakan anak dari pasangan Utsman Abu Quhafah (ayah) dan Salma binti Shakhar (ibu).

Kisah Rasa Takut Abu Bakar Kepada Allah SWT

Kisah rasa takut abu bakar kepada Allah SWT
Abu Bakar & Surga yang dijanjikan.

Dia dilahirkan di Makkah pada tahun 27 Oktober 573 dan wafat di Madinah pada 23 Agustus 634 (usia 61 tahun). Semasa hidupnya, dia sangat berjasa dalam memperjuangkan islam bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya.

Posisi Abu Bakar dalam Islam

Abu Bakar adalah mertua Nabi Muhammad yang menikahi anaknya bernama Siti Khadijah. Selain itu, Abu Bakar merupakan sahabat kesayangan Rasulullah. Sepanjang perjalanan Muhammad sebagai Nabi, dia telah mengorbankan segala-galanya.

“Ash-Shiddiq” sendiri adalah gelar yang diberikan oleh Rasulullah SAW terhadap Abu Bakar, yang berarti “Kebenaran/berkata benar”, karena Rasulullah sangat mempercayai beliau dalam hal dan urusan apapun.

Dia juga merupakan anggota Khulafaur Rasyidin pertama setelah wafatnya Nabi. Khulafaur Rasyidin sendiri adalah empat khalifat penerus yang memimpin Islam sepeninggal Nabi, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.

Sosok Abu Bakar di mata Rasulullah SAW

Sesuai dengan kesepakatan dari banyak Ahli Sunnah, Abu Bakar adalah manusia paling mulia diantara seluruh manusia di dunia selain Anbiya’. Keyakinan dan keimanannya begitu kuat akan kebenaran ajaran Islam.

Bahkan Rasulullah SAW telah memberi kabar baik bahwasanya ia akan menjadi salah satu Pemimpin Jamaah di Surga nanti. Seluruh pintu Surga terbuka dan memanggil-manggil namanya.

Rasulullah SAW juga telah bersabda :

“Orang pertama yang masuk Surga di kalangan umatku adalah Abu Bakar..”.

Pertanyaannya, kenapa Abu Bakar adalah manusia yang begitu istimewa di sisi Manusia dan Allah, serta di dunia dan di akhirat?

Selain keimanan dan ketakwaannya yang sudah tidak diragukan lagi, salah satu penyebab lain adalah Rasa takut Abu Bakar kepada Allah SWT semasa hidupnya. Berikut, beberapa kisah diantaranya.

Abu Bakar suka Berandai-andai

Banyak sahabat yang bahkan sudah dijaminkan surga baginya, namun tetap merasa rendah dan hina di dunia. Hati dan pikiran mereka selalu diselimuti kekhawatiran dan rasa takut akan dosa, meski sekecil apapun.

Begitu pula dengan Abu Bakar, bahkan dia sering Berandai-andai, membandingkan dirunya dengan apa yang dilihatnya. “Andai aku menjadi…”, “Andai aku menjadi itu…”.

Ketika melihat sebatang pohon, dia akan berucap “Andai aku menjadi sebatang pohon yang kemudian ditebang..”, kadangkala dia bergumam “Andai aku menjadi rerumputan yang akan dimakan hewan..”.

Ketika dia sedang berada disebuah taman, kemudian melihat seekor hewan yang sedang duduk, lalu dia berucap “Wahai, alangkah indah hidupmu. Kamu makan, minum dan berkeliaran diantara pepohonan, sedangkan di akhirat tak ada Hisab bagimu. Andai aku menjadi sepertimu..”. (Tarikhul-Khulafa).

Ketika Abu Bakar Marah kepada Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami

Rabiah bin Ka’ab al-Aslami adalah salah satu pelayan setia Rasulullah SAW, beliau bertugas mempersiapkan keperluan wudhu dan hajat Nabi sepanjang hari, siang dan malam.

Rabiah bin Ka’ab al-Aslami bercerita :

Suatu hari, terjadi percekcokan antara aku dan Abu Bakar. Kesalahpahaman yang terjadi membuat ia berkata kasar kepadaku, namun aku diam saja. Setelah ia menyadari kesalahannya, ia memintaku untuk membalas perkataannya dengan berkata :

“Hai Rabiah, ucapkanlah kata-kata kasar kepadaku sehingga menjadi balasan untukku..”

Aku tetap tidak menanggapi permintaannya dan hanya terdiam saja. Kemudian Abu Bakar kembali berkata :

“Kamu harus mengucapkannya sebagai balasan untukku. Jika tidak, akan aku kadukan kepada Rasulullah SAW..”.

Aku tetap menolaknya dengan bersikap diam. Lalu, dia berdiri dan pergi meninggalkanku. Orang-orang Banu Aslam yang menyaksikan itu menjadi terheran-heran seraya berkata :

“Orang ini aneh sekali, dia sendiri yang memulai, tapi malah dia pula yang mengadukannya kepada Rasulullah SAW..”

Kemudian aku membalas percakapan mereka :

“Tahukah kalian siapa dia? Dialah Abu Bakar. Jika dia marah, maka Rasulullah SAW akan ikut marah kepadaku, sedangkan murka beliau adalah murkanya Allah SWT. Jika demikian, siapakah gerangan yang bisa menyelamatkanku..?”.

Setelah percakapan tersebut, kemudian aku menemui Rasulullah dan mengadukan kesalahpahaman antara aku dan Abu Bakar. Kemudian Beliau bersabda kepadaku :

“Baiklah, kamu memang tidak menjawab dan membalas perkataan Abu Bakar. Namun sebaiknya kamu berkata ‘Semoga Allah memaafkanmu wahai Abu Bakar’…”.

Baca juga : Cara Abu Bakar dalam Membelanjakan Harta

Hikmah dari Kisah Ketakutan Abu Bakar

Meskipun Rasulullah SAW telah menjanjikan begitu banyak kenikmatan untuk Abu Bakar di Akhirat kelak, namun tak lantas membuat dia begitu saja tenang di dunia. Rasa takutnya kepada Allah melebihi rasa senangnya yang telah dijanjikan.

Begitulah sifat dan kepribadian Abu Bakar, pemimpin pertama Islam setelah wafatnya Nabi. Hanya karena kesalahpahaman sepele, beliau begitu cemas dan khawatir sehingga meminta sendiri balasan terhadap dirinya.

Lalu, bagaimana dengan kita, yang tidak pernah merasa khawatir saat mencaci, mencela, menghina dan bermusuhan sesama muslim? Pernahkah kita berpikir betapa pedihnya azab Allah SWT?.

Demikianlah, Kisah Rasa Takut Abu Bakar kepada Allah SWT yang begitu menginspirasi dan menjadi teladan seluruh manusia di dunia. Semoga Kisah Sahabat di atas bisa kita ambil hikmahnya.

Tinggalkan komentar