Kisah Rasa Takut Umar bin Khattab

Kisah Rasa Takut Umar Bin Khattab – Bagi umat Islam di seluruh dunia, Umar bin Khattab adalah salah seorang sosok Pahlawan terbaik dan pemimpin terhebat sepanjang sejarah islam sejak masa lampau.

Kehebatan, keberanian dan keimanannya sudah tidak diragukan bagi, bahkan termasuk salah seorang yang sudah dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Kisahnya begitu menarik untuk diikuti dan diambil hikmahnya.

Siapa Umar bin Khattab secara singkat ?

Kisah Rasa Takut Umar bin Khattab

Sahabat Nabi yang bernama lengkap Umar bin al-Khattab bin abdul Uzza ini adalah Khalifah ke-3 setelah sepeninggal Nabi Muhammad, memimpin Islam sejak tahun 632–661, salah satu anggota Khulafaur Rasyidin dan dikenal dengan nama Amirul Mukminin.

Umar bin Khattab lahir pada tahun 584 dan wafat tahun 644 dalam usia 60 tahun di Madinah. Dalam beberapa hadits menyebutkan bahwa, beliau adalah sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Bahkan, Rasulullah SAW memberinya gelar Al-Faruq, yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Kehebatan, kekuatan, ketakwaannya dan lainnya sangat bisa dijadikan suri tauladan bagi seluruh manusia.

Dari segenap kelebihan yang dikaruniai Allah SWT kepadanya, tidak semerta-merta membuatnya sombong dan angkuh, tapi sebaliknya. Ketaatannya yang tinggi membuatnya amat takut kepada Allah SWT.

Lalu, bagaimanakah rasa takutnya? Simak beberapa kisah di bawah ini yang mendeskripsikan Rasa Takut Umar bin Khattab kepada Allah SWT dalam hidupnya.

Kisah Rasa Takut Umar bin Khattab kepada Allah SWT

Dibalik sosok garang, beringas dan kekuatan yang dimilikinya, Umar bin Khattab adalah pemimpin yang sangat bertakwa dan takut kepada Allah serta seorang pemimpin yang amanah.

Ketika berjalan di suatu taman dan melihat sebatang kayu, dia memegang kayu tersebut sembari berkata : “Seandainya aku menjadi sebatang kayu ini..”. Bahkan ia pernah berkata : “Seandainya ibuku tidak melahirkanku..”.

Ketika Umar bin Khattab dimintai Menuntutkan Balas seseorang

Pada suatu hari di masa kepemimpinannya, ia sedang sibuk bekerja. Kemudian seseorang menemuinya dengan tergesa-gesa seraya berkata :

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya si Fulan telah menzhalamiku, aku ingin engkau menuntut balas untukku dengan memberi hukuman kepadanya..”.

Bukannya menerima tawaran si pengadu tersebut, Umar justru mengambil sebuah cambuk dan memukul orang itu, kemudian berkata :

“Aku telah menyediakan waktu untukmu, tapi kamu tidak datang. Sekarang, ketika aku sibuk dengan pekerjaan lain, kamu malah datang dan memintakan balas untukmu..”.

Setelah mendengar jawaban Umar, orang tersebut pergi. Namun tidak lama setelahnya, Umar menyuruh seseorang untuk memanggil orang itu kembali. Setelah datang, Umar mengambil cambuk tadi dan berkata :

“Balaslah Aku..”.

Orang tersebut tidak membalas, namun menjawab :

“Aku telah memaafkanmu karena Allah..”.

Setelah peristiwa itu, Umar langsung pulang ke rumah dan mengerjakan Shalat dua rakaat. Lalu dia berbicara kepada diri sendiri :

“Wahai Umar, dulu kamu begitu rendah, kemudian Allah menaikkan derajatmu. Dulu kamu amat sesat, kemudian Allah memberkahimu. Dulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, serta menjadikanmu raja bagi manusia. Sekarang, telah datang seorang manusia yang kengadukan nasibnya, namun kamu menyambuknya. Lalu, apa jawabanmu di hadapan Rabb-mu di hari kiamat kelak…??”.

Kemudian, Umar bin Khattab menghukum dirinya sendiri dalam waktu yang cukup lama. (Usudul-Ghabah).

Ketika Umar bin Khattab bertemu seorang wanita di atas bukit

Pelayan Umar bin Khattab yang bernama Aslam R.a., pernah bercerita…

Suatu hari, aku dan Umar mengunjungi Harrah, yang merupakan salah satu kota di Madinah. Kami melihat sepercik cahaya dari atas bukit. Kemudian Umar berkata kepadaku :

“Mungkin itu adalah seorang musafir yang kemalaman dan tidak sempat sampai tepat waktu, dan menunggu hingga pagi di atas bukit. Mari kita hampiri mereka, sembari melihat penjagaan malamnya..”.

Kami berdua pergi menuju perkemahan itu. Ternyata, bukan beberapa musafir, yang kami lihat adalah seorang wanita dan beberapa anak kecil yang tengah menangis di sekelilingnya. Terlihat wanita tersebut sedang merebus air di atas tungku.

Umar bin Khattab kemudian memberi salam dan meminta izin untuk mendekat, lalu bertanya :

“Mengapa anak-anak ini menangis..?”.

“Mereka kelaparan..” jawab si wanita itu.

“Apa yang sedang engkau masak di dalam panci itu..?” Tanya Umar kembali.

“Aku hanya memasak air, agar anak-anak ini menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka bisa senang dan tertidur. Semoga Allah SWT menghukum Amirul Mukminin Umar yang tak mau tahu akan kesusahan ini..” jawab wanita tersebut.

Mendengar jawaban itu, Umar kemudian menangis dan berkata :

“Semoga Allah merahmatimu. Tepi, bagaimana Umar bisa tahu akan keadaanmu ini..?”.

“Dia adalah pemimpin kami, tapi dia tidak tahu keadaan kami..” jawab si wanita.

Setelah percakapan itu, aku dan Umar balik ke Madinah. Sesampainya di sana, aku melihat beliau mengambil sekarung gandum, kurma, minyak lemak, beberapa helai pakaian dan beberapa Dirham dari Baitul-Mal.

Setelah semua dikumpulkan, kemudian Umar menyuruhku untuk meletakkan karung itu ke punggungnya. Namun aku menawarkan diri untuk memikulnya, namun dia menjawab :

“Tidak. Letakkan saja dipundakku..”.

Sampai dua kali aku menawarkan diri dan dia menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian dia berkata :

“Wahai Aslam, siapakah nanti yang akan memikul dosa-dosaku di hari kiamat kelak? Apakah kamu? Tidak, aku sendirilah yang akan memikulnya, dan aku bertanggung jawab penuh akan hal ini..”.

Akupun terpaksa mengangkat karung tersebut dan meletakkannya di punggungnya. Sesampainya di bukit tempat perkemahan tadi, ia langsung memasukkan tepung,minyak lemak dan kurma, kemudian diaduknya sendiri.

Aku yang saat itu berada di sampingnya, melihat asap mengenai janggutnya. Ia memasaknya hingga matang dan menghidangkan makanan itu kepada wanita dan anak-anak tadi.

Akhirnya, anak-anak tersebut bisa bermain dengan riang tadi. Lalu, wanita itu berkata :

“Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu. Seharusnya kamu lebih pantas menjadi Pemimpin dibandingkan Umar..”.

Lalu Umar menjawab :

“Jika nanti kamu menjumpai Khalifah, maka kamu akan menjumpaiku di sana..”.

Setelah itu, dia meletakkan kedua tangannya yang penuh berkah itu ke atas tanah dan duduk dengan tenang untuk beberapa saat.

Di perjalanan pulang, beliau berkata kepadaku :

“Wahai Aslam, aku telah menyaksikan mereka menangis, makanya aku hendak duduk sebentar untuk menyaksikan mereka tertawa..”. (Asyharu Masyahir).

Sholat Subuh Umar bin Khattab yang Panjang

Di saat sholat Subuh, Umar bin Khattab biasanya akan membaca surat-surat yang panjang, kadang beliau membaca Surat Al-Kahfi, Thaahaa dan lainnya diiringi tangisan yang terisak-isak.

Isakan tangisan itu bahkan kadang terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Pernah suatu subuh, beliau membaca surat Yusuf dalam sholatnya, ketika sampai pada ayat :

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya :

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”.

(Qs. Yusuf : 86).

Beliau menangis terisak-isak hingga suaranya tidak terdengar lagi. Bahkan ketika Tahajjud, saking panjangnya ia pernah terjatuh dan kemudian sakit.

Hikmah dan Penutup

Begitulah keteladanan Umar bin Khattab dalam memimpin Umat Islam hingga mencapai titik tertinggi kejayaan pada masa itu. Ketegasan dan kekuatannya benar-benar digunakan untuk memimpin, melindungi dan mengayomi masyarakat.

Namun meskipun begitu, rasa takutnya Kepada Allah SWT jauh lebih besar lagi. Andai saja, sosok pemimpin di zaman sekarang mampu mencontoh keteladanan dan ketakwaan seorang Umar, yang sosoknya begitu ditakuti seluruh raja-raja, pada 1300 tahun yang lalu.

Demikianlah, Kisah Rasa Takut Umar bin Khattab kepada Allah SWT dan bagaimana beliau dalam memimpin Umat. Semoga Kisah Sahabat di atas bisa kita ambil hikmah dan menjadikannya suri tauladan dalam hidup.

Tinggalkan komentar